dailyvid

More Post »
Headlines News :
Home » » PKS: Pemukulan Wartawan Bukti Polisi Tidak Profesional

PKS: Pemukulan Wartawan Bukti Polisi Tidak Profesional

Written By Unknown on Rabu, 28 Maret 2012 | 15.54


PKS: Pemukulan Wartawan Bukti Polisi Tidak Profesional
Tribunnews.com/Nicolas Timothy
Bentrokan antara mahasiswa dan polisi di Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (27/3/2012). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indra, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mengecam keras insiden pemukulan terhadap wartawan yang sedang meliput demonstrasi mahasiswa, yang dilakukan sejumlah oknum polisi.
Ditegaskannya, insiden ini memalukan dan menunjukkan ketidak profesionalan aparat kepolisian.
"Saya mengecam keras insiden pemukulan wartawan yang sedang meliput domonstrasi mahasiswa di Gambir tadi sore. Ini merupakan tindakan memalukan yang dilakukan oleh kepolisian, dan ini bukti Polri tidak profesional," ujar Indra kepadaTribunnews.com, Selasa (27/3/2012).
Insan pers yang sedang meliput berita, lanjutnya, harus bebas melakukan peliputan, dan mendapatkan perlindungan. Tidak dibenarkan polisi melakukan intimidasi, apalagi memukuli dan merampas alat-alat kerja wartawan.
"Kalau kepolisian keberatan akan liputan atau rekaman yang dilakukan wartawan, berarti kepolisian sangat patut diduga khawatir akan publikasi atas tindakan represif, brutal, kekerasan, atau bentuk pelanggaran lain dalam mengamankan dan menjaga demonstrasi mahasiswa di Gambir tadi sore," paparnya.
Ia mempertanyakan sikap kepolisian. Kalau tidak ada pelanggaran yang dilakukan polisi terhadap pendemo, imbuhnya, lalu kenapa mereka harus takut akan rekaman para wartawan?
"Kapolri harus menjelaskan dan bertanggung jawab atas insiden memalukan ini," tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, Kartu tanda pengenal alias ID card wartawan, nampaknya semakin tak dihargai dan diperhatikan.
Rizki Sulistyo, seorang pewarta foto dari Koran Lampu Hijau, mendapat beberapa pukulan polisi, saat hendak mengabadikan bentrokan yang terjadi antara pengunjuk rasa dan aparat kepolisian, di Jalan Medan Merdeka Timur depan Istana Kepresidenan, Selasa (27/3/2012) sore.
Kejadian berawal dari bentrokan pengunjuk rasa yang tergabung dalan barisan Konami, untuk menolak kenaikan harga BBM di depan Istana. Situasi memanas, dan para pendemo hendak menembus blokade polisi.
"Kejadiannya di samping Gereja Imannuel, waktu polisi lagi nyisir mahasiswa," ungkap Rizki di depan Stasiun Gambir, Jakata Pusat.
Kata Rizki, saat itu ia sudah berteriak dan menunjukkan kartu pengenal sebagai wartawan. Namun, polisi cuek, dan justru mengerubunginya dan dengan membabi buta memukuli wajahnya.
"Saya sempat dijambak. Kamera mau dirampas, tapi saya ambil balik, dan jatuh, langsung ditendang," tutur pria berambut gondrong.
Puluhan petugas tersebut, lanjut Rizki, kemudian berteriak 'hapus gambar kamu' namun tak diindahkan olehnya.
"Saya lalu merapat ke kerumunan wartawan. Polisi kemudian meninggalkan saya," imbuhnya.
Saat ini, para mahasiswa sudah membubarkan diri, begitu pula dengan para aparat kepolisian. Arus lalu lintas di depan Stasiun Gambir perlahan sudah mulai normal kembali. (*)
Share this post :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Blognya Si Rifqi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger